Tour De Java Part 1

Ini adalah tulisan yang menceritakan perjalananku ketika pulang kampung dari Jakarta ke Kediri. Aku namain Tour de Java. Ala-ala Tour de France tapi versi yang lebih ringan. Kalau mereka naik sepeda, aku naik motor aja. Capek.

Sebelum dilanjut, aku mau ngasi tau kalau tulisan ini terselip beberapa tulisan yang mungkin ga penting bagi pembaca.

Atau malah semuanya gak penting wkwk. Aku sengaja masukin info yang bersifat keperluan pribadi, karena selain ingin berbagi, aku ingin menjadikan media ini sebagai memori keduaku selain di otak. Aku juga berharap bisa senyum-senyum sendiri ketika membaca ini beberapa tahun mendatang. *ewh

Ini perjalanan panjang perdanaku naik motor.

Pulang kampung versi sebelumnya aku naik bus, dan itu pertama kalinya juga. Waktu itu hanya modal nekat dengan motto:

Menjadi laki-laki sejati yang tak takut mencobatak ada gentar di hatinya, dan selalu percaya dengan kemampuannya.

Wezzz keren gak, tuh? Tapi, ketika sudah ditengah perjalanan ternyata aku nyasar, bukannya menuju ke Kediri tapi malah ke Ponorogo. Aku udah menduga sih, karena aku beli tiketnya di Calo. Bukan Calonya kok yang jahat, akunya aja yang kurang pintar. Malu euy kalo diceritain, ga jadi keren.

Tapi gpp, kalo nyasar-nyasar gitu artinya tamasya tak terduga.
Nah karena cerita di atas itulah muncul ide perjalanan ini. Dulu tak pernah terlintas di pikiran, tapi setelah kepikiran malu karena nyasar itu menyerang bertubi-tubi, semua berubah. Intinya pengen nambah pengalaman.

September 2017

Dengan modal Bismillah, mulailah aku menggali informasi sebanyak-banyaknya. Mulai dari rute, medan jalan, keperluan yang dibawa, pos pemberhentian dll. Tidak lupa ngelist ekspektasi & realita terburuk yang mungkin terjadi di perjalanan. Biar siap dan gak nyesel.

Ditawarin tempat istirahat sama temen-temen di rumahnya, padahal aku kepikirannya istirahat di Rest Area/SPBU/Penginapan aja, kalo aku sediri mah istirahat di mana aja jadi wkwk. Tapi yaa Alhamdulillah ketemu #OrangBaik, rezeki ga boleh ditolak, semoga Allah menjaga mereka.

Akhirnya, dapatlah rute terbaik versiku yang kebetulan ada rumah-rumah temen, hehe.
+-1200km, 9 titik pemberhentian. Perjalanan aku bagi menjadi 3 bagian. Daerah Jabodetabek & Jabar aku namakan The Kingdomof Dust; Jawa tengah The Water Tribe; dan Jawa Timur adalah The Homecoming. Biar apa? Biar seru.

20 Desember 2017

Seminggu sebelum keberangkatan, mulai persiapan. Servis motor: ganti oli, ganti minyak rem, ganti kampas rem dan shockbreaker belakang aku turunin posisinya biar rendah, sebelumnya pernah aku tinggiin tapi jadi pegel (karena nungging), dan setting yang lain. Perlengkapan lain seperti: Nyuci sarung tangan yang sebelumnya jarang dicuci, beli-beli ini itu kaya kacamata karena helmku gak ada kacanya. (ini adalah sebuah kesalahan karena gak pake helm yang ga ada kacanya wkwk jadi jangan ditiru ya gais). Dan tidak kalah penting, yaitu berusaha menghafal beberapa jalan dan patokannya via Google Maps.

27 Desember 2017: Perjalanan dimulai.

The Kingdom of Dust

Rencananya, aku berangkat setelah subuh supaya terhidar dari macet. Manasin motor, cek barang bawaan, kunci pintu kos, buka Waze. Alhasil Jam 5.45 WIB baru berangkat. Keluar dari Jakarta dengan tenang, tetapi sedikit terhambat macet di daerah Bekasi dan Karawang, Alhamdulillah-in aja.

Sekitar pukul 8 pagi mulai masuk jalur Pantura, mulai dari sini nih, asalan kenapa aku namain The Kingdom of Dust, truk-truk subhanallaah banyaknyaa, ngga tau deh ngangkut apa aja. Jalanan jadi berdebu, mana jalannya luruuus terus berjam-jam sampai aku bosan.

Bumiayu, I’m cominggg.

Pengennya, hari ini bisa mampir ke beberapa rumah teman yang berada di titik pemberhentian post 3 dan bermalam di kos temenku pos 5 Jogja. Setelah 7 jam perjalanan, dan waktu menunjukkan pukul 1 siang, aku mampir di rumah temen yang namanya Rojak, di Bumiayu, pos 3. Ga jadi segera lanjut ke Jogja karena sama Rojak diajakin keliling Bumiayu dan mampir ke pemandian air anget. Beh masyaAllah seger! Capeknya ilang cuy. Maaci Ojak wkwk.